Mahasiswa di Karawang Jernihkan Air Kotor Menggunakan Arang

c4378fb8-58e2-45e3-bd11-08d4324dad53_169

Karawang – Mahasiswa Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang membuat sistem penampungan air berbasis sedimentasi dan filterisasi. Dia adalah Saiful Anwar, mahasiswa smester 7 jurusan Teknik Industri.

Anwar menjelaskan, untuk menyaring air, dia menggunakan media arang, serabut kelapa, bahkan kerikil dan kapas untuk menyaring air kotor. Dia juga menggunakan mesin pompa celup yang rencananya dipasang di bawah permukaan irigasi.

“Mesinnya dipasang di bawah air supaya saat kemarau dan air sedikit, mesin masih mampu menyedot air,” ucap Anwar saat ditemui detikcom di Kampus UBP, Jalan Ronggowaluyo, Karawang, Jawa Barat, Selasa (4/9/2018).

Air dari irigasi kemudian ditampung di bak, setelah itu, air disalurkan ke bak yang sudah dipasangi lapisan penyaring. Air yang sudah tersaring kemudian disalurkan ke bak penampung yang juga dipasangi penyaring. “Sehingga air bisa lebih jernih karena kita saring dua kali,” kata Anwar.

Inovasi tersebut berawal dari keprihatinan Anwar saat melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Wanajaya, Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang. Di Desa itu, Anwar melihat masyarakat yang kesulitan mendapat air bersih. Bahkan bak penampung air yang kerap digunakan warga kondisinya memprihatinkan. Alhasil ia berinovasi membuat bak itu lebih baik.

“Kondisi bak penampungan warga kurang baik, karena terbuka sehingga air yang ditampung mudah terkontaminasi,” kata dia.

Mahasiswa di Karawang Jernihkan Air Kotor Menggunakan Arang
Saiful Anwar memperlihatkan modul sistem saringan air buatannya. (Foto: Luthfiana Awaluddin/detikcom)

Sayangnya, kata Anwar air dari bak tersebut kerap digunakan warga untuk kebutuhan sehari – hari. “Karena sumur mereka kering, sebagian warga terpaksa menggunakan air dari bak penampungan,” ucapnya.

“Kondisi itu selalu terjadi saat kemarau. Situasi tak berubah dan selalu berulang setiap musim kemarau,” ujar Anwar.

Anwar bercerita, temuannya ini dilatarbelakangi kondisi kekeringan yang masih terus menghantui wilayah Karawang bagian selatan. Sedikitnya sejumlah dusun dan sembilan desa di dua Kecamatan di Karawang masih mengalami krisis air.

Bahkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setiap harinya harus menurunkan bantuan 25 ribu liter air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan.

“Setiap hari kita mengirimkan air ke warga sebanyak lima rit mobil. Satu rit itu sebanyak 5 ribu liter air. Jadi sekitar 25 ribu liter air bersih kita kirim ke warga yang terdampak,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Karawang Muhammad Jaenudin saat diwawancara terpisah, Selasa (4/9/2018).

Mahasiswa di Karawang Jernihkan Air Kotor Menggunakan Arang
BPBD Karawang mendistribusikan air bersih di Karawang Selatan. (Foto: istimewa)

Jaenudin mengatakan sedikitnya puluhan ribu jiwa kesulitan air bersih di dua Kecamatan yakni Kecamatan Tegalwaru, Kecamatan Pangkalan dan sebagian warga di Telukjambe Barat. “Beberapa mata air dan sumur di wilayah tersebut selalu mengering ketika musim kemarau melanda wilayah tersebut. Warga terpaksa beli air atau menggunakan air sungai dan irigasi,” tuturnya.

Jaenudin mengungkapkan, ada empat desa dii Tegalwaru yang kekeringan. Rinciannya yakni Desa Cintawargi, Kutalanggeng, Cintalaksana, Cintalanggeng. Sedangkan untuk wilayah Kecamatan Pangkalan ada lima desa yakni Mulangsari, Cintasih, Tamansari, Tamanmekar dan Jatilaksana.

“Iya kekeringan juga menyebar ke sebagian wilayah Desa Wanajaya di Telukjambe,” kata dia.

Ia menuturkan tidak seluruh dusun di Desa berdampak kekeringan. Hanya sebagian dusun saja dan menyebar. “Ada yang satu desa itu dua dusun atau lima dusun yang terdampak. Nggak seluruh desa yang kekeringan,” ujar Jaenudin.
(bbn/bbn)

Sumber : www.detik.com