Warga Kaltara Sulap Batok Kelapa Jadi Asap Cair Pembasmi Rayap

47b7a21a-558b-4b36-925a-a7066769571b_169

Tarakan – Hampir semua bagian pohon kelapa memiliki manfaat, tidak terkecuali tempurungnya. Di tangan warga Kota Tarakan, Kalimantan Utara, Paijan Nur Erli, batok kelapa disulap menjadi asap cair sebagai bahan pengawet makanan alami. Tak hanya itu, asap cair itu bisa jadi pengganti pestisida untuk pertanian ramah lingkungan.

Ide warga Kelurahan Karang Rejo, Kecamatan Tarakan Barat, itu bermula saat melihat limbah batok kelapa yang ada di kompleks Pasar Gusher hanya digunakan sebagai bahan bakar. Nilai jual yang tidak terlalu tinggi membuat tempurung kelapa sering dibuang begitu saja oleh pedagang kelapa. Hal tersebut membuat Paijan berpikir keras untuk memanfaatkan batok kelapa supaya memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Saat membakar ikan menggunakan batok kelapa, Paijan menemukan ide batok kelapa juga memiliki kandungan minyak. Akhirnya dia melakukan uji coba supaya mendapatkan minyak yang ada di batok kelapa.

“Awalnya, saya sering bakar ikan, kok tempurung kelapa ada minyaknya. Berarti bisa diambil, makanya saya coba-coba dan hasilnya memang benar ada mengeluarkan cairan berupa minyak atau asap cair,” kata Paijan, Selasa (5/12/2017).

Berkat inovasinya, bapak tiga anak ini mendapatkan pembinaan dari pemerintah daerah. Produknya itu diikutkan dalam lomba Teknologi Tepat Guna (TTG). Berkat keuletannya, Paijan berhasil menjuarai lomba TTG tingkat Provinsi Kalimantan Utara, dan juara harapan dua tingkat nasional.

Produknya terdiri atas tiga macam produksi minyak tempurung kelapa. Yang pertama menyebutnya dengan Grade 3, yaitu minyak yang baru sekali suling sehingga warnanya masih hitam pekat dan bau asap. Grade 2 warna minyak sudah agak jernih. Grade 1 warna minyak cukup jernih.

Meskipun belum ada penelitian terkait khasiat minyak batok kelapa, Paijan memastikan produknya dapat digunakan untuk bahan pengawet makanan alami.

“Untuk minyak Grade 1 bisa digunakan sebagai bahan pengawet makanan alami, dan juga ikan. Sedangkan Grade 2 dapat membuat kayu tahan lama dan tahan rayap, dan untuk Grade 3 digunakan sebagai pengganti pestisida dan menyuburkan lahan,” ungkapnya.

Untuk harga, Paijan menjual satu botol kecil minyak itu sebesar Rp 20-50 ribu. Meskipun permintaan banyak, Paijan belum bisa memenuhi kebutuhan pasar.

“Pelanggan sudah banyak, ada dari petani, penjual ikan, dan tukang bangunan. Tetapi produksi masih terbatas, dalam 2 hari hanya dapat 1 liter dengan bahan baku batok kelapa sebanyak 10 kg. Sebenarnya ada alat yang memiliki kapasitas 50 kg, tetapi masih dalam perbaikan sehingga menggunakan alat modifikasi,” bebernya.

Untuk bisa menghasilkan minyak, batok kelapa ditaruh dalam wadah yang tertutup. Kemudian tabung penyimpanan batok kelapa yang sudah ditutup rapat dipanasi hingga 150 derajat Celsius. Uap dari batok kelapa diembunkan dengan menggunakan pipa kecil sepanjang 1 meter, yang ujungnya diberi tabung yang lebih kecil.

“Penyulingan ini membutuhkan waktu setidaknya 2 hari, untuk bahan bakar penyulingan kita gunakan briket arang batok kelapa yang sudah kita suling. Jadi semuanya berasal dari batok kelapa. Bahkan arang batok kelapa ini juga bisa dibuat sabun, tetapi saya belum seriusi karena masih fokus membuat minyak dulu,” paparnya.

Untuk melihat kualitas produksi minyak batok kelapanya, Paijan telah melakukan kerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk melakukan penelitian apakah berbahaya atau tidak saat dikonsumsi, karena digunakan sebagai bahan pengawet makanan.

“Kalau untuk bahan pengawet, sudah diuji coba, hasilnya ikan dan makanan lebih tahan lama. Tapi apakah berbahaya bagi kesehatan atau tidak, masih diteliti di IPB Bogor. Sudah sebulan lalu saya kirim, mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah bisa ada hasil,” harapnya.

Sedangkan untuk pertanian, minyak batok kelapa ini sudah terbukti mampu menangkal beberapa hama, sehingga para petani tidak lagi harus membeli pestisida beracun yang tidak ramah lingkungan.

“Kalau untuk bahan berupa batok kelapa, saya tidak kesulitan karena tinggal ambil di pedagang kelapa yang ada di kompleks Pasar Gusher di sebelah rumahnya. Bahan cukup melimpah, tinggal memikirkan kemasan supaya lebih enak dilihat dan lebih menarik. Kalau saat ini masih menggunakan botol bekas, mudah-mudahan ada pembinaan dari pemerintah supaya bisa dikembangkan lebih baik lagi karena ini potensi,” pungkasnya.
(asp/asp)

Sumber : www.detik.com